Friday, May 10, 2013

KHR (Katekyo Hitman Reborn!) FanFiction ~ 惡の華 ~

FanFiction
By : Skyking22. Regalia a.k.a Me (FF kedua yang udah gak kepake di websitenya, wkkkk)
Rated : M (Jangan mikir yang kesana dulu dong, liat dulu makanya.)
Warn : Gore, Blood, Violence, Yah, liat kan? Rated M bukan buat gituan, tapi buat yang sadis-sadis. Jangan lupa siapin kantong muntah kalo gak kuat.(?)
.
.
.

Flowers Of Evil
Genre : Drama , Horror, Mystery , Psychological.
Rated : T-M for gore scene.
.
.
~Kebahagiaan tidak selamanya abadi~
.
.
Pukul 24.00
.
"Nee-san, ayah dan ibu pergi kemana?"
Ryuu Kazeki, meskipun nama gadis berumur 15 tahun itu tidak sama dengan keluarganya bahkan adiknya, ia tetap menoleh ke arah adiknya, Hibari Kyoya yang berumur 9 tahun.
Ia tersenyum dan menjawab,
"Mereka sedang bekerja, Hibari-kun."
.
Pukul 23.00
.
Kyoya Yuzuru dan Seiya Hiruki, sepasang suami-istri itu kini sedang berbincang-bincang di tempat kerja mereka. Kadang dihiasi dengan tawa, keseriusan, dan keheningan.
"Dan, kau tahu, Hiruki. Hibari kemarin-"
CRAT!
Hiruki tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah melihat apa yang terjadi di depannya. Sesuatu yang berbentuk seperti bola itu kini terlepas dari susunannya, menggelinding ke arah kakinya. Darah bermuncratan dari bekas daging yang terkoyak oleh bilah tajam, membuat Hiruki jatuh terduduk dan hanya bisa bergetar ketakutan.
Dirinya ingin menjerit-jerit
...
"AAAA!"
...
Lagi, keheningan malam ini ternodai oleh tragedi berdarah.
.
Pukul 22.00
.
"Hibari-kun. Kau belum tidur?"
Hibari menatap kakaknya dengan pandangan ketakutan, kekhawatiran dan..
Kegelisahan.
"Ne-Nee-chan.. Aku.. Aku.. Aku merasa ada yang tidak beres..."
Ryu mengangkat alis.
"Memangnya ada apa? Apa Hibari-kun lapar?"
Hibari menggeleng.
"Aku.. Kufikir.. Entah kenapa aku gelisah sekali.. Aku rasa ayah dan ibu sedang dalam bahaya.."
...
Hibari bungkam, tidak bisa mengatakan apa-apa lagi ketika tubuhnya sudah berada di dekapan kakaknya.
"Jika itu kemauanmu.. Ayo kita pergi ke kantor ayah dan ibu.."
.
Pukul 21.00
.
"Anu.. Bisa kau tunjukkan dimana ruangan..."
...
"A-Ayah! Ibu!"
Ryu tidak bisa menahan kemarahan dan air matanya ketika melihat apa yang terjadi di depan matanya. Ia lalu segera menutup mata Hibari agar tidak melihat peristiwa mengenaskan tersebut.
"Ne-Nee-chan?! Ada apa?! Kenapa mataku ditu-"
BUUK!
Hibari terjungkal, terlepas dari pelukan kakaknya. Laki-laki itu meringis kesakitan, namun kembali membuka matanya.
Dirinya terkejut setengah mati.
Ayah ibunya, kepalanya tidak ada. Kakaknya, Ryu, sedang dipukuli oleh banyak orang.
...
Sesungguhnya, apa yang terjadi?
.
Pukul 20.00
.
"Uh... AHHHH!"
"HENTIKAN!"
Ryu tak bisa berbuat apa-apa. Tangannya terus dipukuli oleh sebuah tongkat yang sepertinya sangat keras. Banyak orang memukulinya sehingga tulangnya hampir remuk. Tubuhnya memar, penuh dengan darah.
Hibari hanya bisa terdiam dan mengepalkan tangannya.
.
Pukul 19.00
.
Yang terdengar dalam kantor tersebut hanyalah, suara tulang remuk, jeritan, tangisan, serta daging yang dicabik.
.
Pukul 18.00
.
Lagi, Hibari hanya bisa melihat kakaknya yang tersiksa.
.
Pukul 17.00
.
Namun, Ryu enggan untuk menyerah. Ia bangkit dan kepalanya tak sengaja membentur dagu salah satu penjahat tersebut. Ia berlari dan ingin meminta pertolongan ke luar, namun, tidak ada orang di kantor tersebut.
.
Pukul 16.00
.
Ryu kini mengerti, pembunuhan ini memang direncanakan oleh orang-orang hotel.
.
Pukul 15.00
.
Ryu tersentak ketika para penjahat itu mendekati Hibari yang sedang menangis. Gadis itu lalu dengan cepat mencari barang yang bisa dipakainya.. dan.. Ketemu!
Sebuah kapak yang bekas menghancurkan kepala orangtuanya.
.
Pukul 14.00
.
Ryu berhasil mendaratkan kapaknya di salah satu kaki penjahat, namun, yang lainnya malah menangkap dirinya dan menculiknya sehingga Hibari harus mengejarnya.
...
Namun, terlambat.
Mereka sudah membawa Ryu yang pingsan entah kemana.
.
Pukul 13.00
.
"Hibari!"
Seorang polisi berhasil menemukan anak tersebut dan membawanya pergi.
.
Pukul 12.00
.
"Nee-chan...! Bagaimana dengan Nee-chan?!"
Polisi itu menghela nafas.
"Bersabarlah. Kami masih mencarinya."
.
Pukul 11.00
.
Ryu bangkit dari pingsannya. Dilihatnya para penjahat kini sedang bersantai. Ia menggertakkan giginya. Segera ia melepaskan tangannya dari kain yang mengikatnya dan mengambil parangnya.
.
Pukul 10.00
.
Kembali, hari ini benar-benar hari penuh darah.
Para penjahat itu tewas seketika dengan tangan kecilnya.
.
Pukul 09.00
.
Ryuu Kazeki menatap nanar, jijik, dengan apa yang sekarang tergeletak di hadapannya. Ya, menatap puluhan mayat yang terhampar luas di atas istana yang penuh mawar merah darah yang mengental anyir.
Angin bahkan masih memberanikan dirinya untuk berhembus mengibarkan rambut Ryu, sang iblis yang sekarang menutupi bola matanya yang berwarna merah magenta. Matanya menyiratkan banyak dendam yang baru saja di hempaskannya sedikit demi sedikit. Tempat yang dihiasi oleh warna merah itu begitu sunyi karena kesendirian Ryu. Mungkin hanya dihiasi oleh puluhan gagak yang bernafsu untuk melahap onggokan daging lembek dan usus yang membuncrat dari tubuh sang mayat.
.
Pukul 08.00
.
Ryu menghela nafas. Ia lalu mengelilingi tempat tersebut untuk memastikan semua 'mangsa' nya sudah pergi ke neraka untuk membalas dosa mereka. Ia menggigit bibir, terus menyumpah dengan lirih untuk keselamatan adiknya yang berada jauh darinya sekarang. Bersenandung serak dengan bibirnya yang mulai memar karena sehabis dipukuli oleh orang-orang yang sekarang sudah menjadi 'bubur' bagi sang gagak.
Ia lalu dengan usil dan bosannya, berkeliling menelusuri lautan darah yang dihiasi oleh tengkorak-tengkorak tak bernyawa. Meskipun begitu, masih banyak tulang-tulang mereka yang dibalut dengan darah yang mulai menghitam.
.
Pukul 07.00
.
Entah kenapa, padahal ia baru pertama kali berbuat gila pada orang-orang yang membunuh ayahnya seperti ini, namun ia sama sekali tidak mual melihat daging-daging busuk yang diinjaknya dengan perlahan sehingga membuat mata itu tercuat dari kelopak mata sang mayat. Sebuah cairan kental putih terlepas dari korneanya.
Ulat-ulat putih, ataupun singkatnya, ratusan belatung yang bertebaran melahap santapan mereka dengan laparnya. Ryu tertawa sinis, mungkin ia memang jahat, tapi setidaknya ia masih berbaik hati untuk memberi makan para belatung yang haus akan daging busuk itu.
Ryu menatap kembali apa yang diinjaknya saat berjalan. Hm? Lembut, namun di dalamnya ada sesuatu yang keras. Oh, ternyata salah satu potongan lengan penjahat itu. Ryu mengetuk kepalanya. Ia tidak mengingat berapa kali ia mengayunkan parangnya yang tajam itu ke tubuh sang penjahat. Seingatnya, ia mendengarkan sebuah suara remukan tulang. Lalu? Entahlah.
.
Pukul 06.00
.
Ia lalu iseng mengingat kembali kejadian saat ia memburu para penjahat itu. Ia lalu tertawa terbahak-bahak mengingatnya. Ya, ia ingat sekali. Jeritan mereka, remukan tulang mereka, suara berdesis yang terdengar seperti melodi kematian di telinga Ryu saat ia mengiris badan mereka hingga terbelah.
Ia juga mengingat saat ia benar-benar merasa kesal atas jeritan mereka yang super berisik, mengganggu gendang telinganya. Maka dengan santainya, ia mengambil parangnya dan memotong leher mereka hingga kepala mereka terlepas dengan cepat. Sekali lagi, Ryu merasa dirinya masih baik karena membiarkan rasa sakit yang dialami mereka berlalu dengan cepat. Bekas kepala itu, kini terus berguling dan menggelinding di sekitar kaki Ryu.
.
Pukul 05.00
.
"HII! Siapapun tolong aku!"
Mata Ryu menatap tajam dengan cepat darimana asal suara itu. Ia mendecakkan lidahnya, ia lalu mengambil parangnya dan bersiap untuk melahap mangsanya yang baru. Bola matanya yang berwarna merah berkilat terang layaknya petir yang menghiasi tragedi malam berdarah.
.
Pukul 04.00
.
Ryu segera melangkahkan kakinya ke arah laki-laki yang berteriak tersebut. Laki-laki itu hanya menjerit keras, berusaha menyelamatkan dirinya. Namun, kakinya begitu lemas hanya karena melihat aura Ryu yang mengelilinginya.
"To-Tolong!"
Ryu melotot.
"Ja-Jangan bunuh a—AGH!"
CRAT!
Terlambat.
Parang yang tajam itu akhirnya dihujamkannya sehingga darah dari selipan organ laki-laki itu menghujani tanah. Ia lalu menginjak terus-terusan daging segar yang baru di potongnya itu dengan keras. Ia lalu menuju perut sang laki-laki yang sekarang telah mejadi mayat, dan menginjaknya juga. Ia mendesis, ia kemudian mengakhirinya dengan membiarkan isi perut itu terburai dan menunggu di santap oleh ratusan belatung yang bernafsu akan laparnya.
Karena bosan, ia mengambil salah satu kepala dari sang mayat dan membenturkan kepala itu berkali-kali ke tanah. Daging-daging lembek yang menempel di jari-jarinya seperti menjerit, namun tertelan oleh tawa Ryu.
"Hihihi.. Hmphh.. HUAHAHAAHA! HAHAHAHAHA!"
BUAK!
Ryu memecahkan kepala itu.
Semburat merah muda kebuan mengintip dari celah. Ryu memandangnya dengan jijik, lalu membiarkan kepala itu meluncur dari tangannya.
"HAHAHAAHAA!" Ryu kembali tertawa, menggelegar, "Tidakkah kau lihat itu, HAH?!"
Kesunyian dan melodi gagak yang sedang makanlah yang menjawab teriakan Ryu.
"Berani-beraninya…" Ryu melempar parangnya, "Kau membunuh keluargaku!"
Tidak ada jawaban.
"HAHAHAHAHAA!" Ryu terus tertawa sambil menangis. Bahagia? Sedih? Entahlah. Bola matanya menjadi mengecil karena mengingat kejadian sadis yang menimpa dirinya.
Ia memegangi kepalanya. Ia lalu bergumam. Ia benar-benar tidak mengerti alur kehidupannya.
Kenapa alur kehidupannya tidak pernah di hiasi oleh kebahagiaan?
.
Pukul 03.00
.
"Nee-chan!"
Ryu tak bisa menahan perasaannya, segera dipeluknya adiknya tersebut. Mereka menangis bersama.
.
Pukul 02.00
.
"Nee-chan?"
"Hmm?"
Hibari duduk di sebelahnya.
"Menurutmu.. Kenapa ayah dan ibu meninggal?"
Ryu menatapnya.
"Karena sudah takdir.. Mungkin?"
"Aku belum puas."
Ryu tersenyum.
"Itu karena.. para manusia brengsek itu iri pada keluarga kita, sehingga mereka membunuh ayah dan ibu."
Hibari menopang dagunya.
"Mereka.. Kenapa manusia jahat sekali..?"
"Karena, manusia hanyalah orang yang serakah. Mereka tak pernah bisa mensyukuri apapun yang mereka dapatkan."
"Kejam."
.
Pukul 01.00
.
"Tapi, kita juga manusia."
"Ya."
"Jadi?"
"Fikirkanlah." Ryu mengambil nafas pelan, dan menoleh kembali ke arah Hibari.
Gadis itu tersenyum kembali sambil mengedipkan salah satu matanya.
"Nyatanya, manusia hanyalah budak tuhan."
"Apa aku juga?"
"Coba lihat dirimu."Ryu melanjutkan, "Apakah dirimu pantas disebut manusia? Apakah dirimu lebih berharga daripada ampas Mitokondria? Apakah pangkatmu lebih tinggi daripada seekor belatung?"
"Aku.. Tidak tahu.."
"Hmm.. "
"Menurut Nee-chan?"
.
Pukul 00.00
.
"Tentukan oleh dirimu sendiri."
.
.XXX
.
END

KHR (Katekyo Hitman Reborn!) FanFiction ~ Piece of My Heart ~

FanFiction
By : Skyking22. Regalia a.k.a Me. (Ya, ini FanFiction Romance pertama saya, makanya sedikit dan abal banget T_T
Rated : T
Warn : Nggak ada, mungkin Typhos lewat(?)
Special for Hibari-sama's birthday~
.
.

.

KHR semuanya milik Amano Akira.

Seperti biasanya, Kota Namimori selalu tenang dan damai.
Hibari Kyoya, sang ketua komite kedisplinan bergumam pelan dan menghela nafasnya dengan tenang sambil melihat keadaan sekitarnya. Ia melangkahkan kakinya di malam yang dinginnya bagaikan membekukan kakinya.
Ia kembali berjalan, berpatroli di tengah gelapnya sang malam. Berusaha mencari ketenangan dan sudah bersiap menggigit orang sampai mati jika ada yang menganggu ketenangannya saat ini.
Hibari menghirup udara malam, lalu melepaskannya kembali. Ia menutup matanya sebentar.. Betapa tenangnya Namimori ini..
Namun, samar-samar, ia bisa mendengar langkah banyak orang. Ia menggigit bibir, padahal baru saja ia bisa merasakan ketenangan di kota tercintanya ini, tapi sudah diganggu oleh herbivora-herbivora lemah di sekitarnya.
"OI! Jangan lari, Hikage-san!"
"Tch! Jangan sampai dia kabur!"
Hibari menoleh ke arah orang-orang berteriak itu, dan betapa terkejutnya ia setelah melihat ada gadis yang berlari terengah-engah keluar dari pohon.
Hibari melihat gadis itu. Kulit wajahnya dan badannya putih pucat, matanya berwarna cokelat, ia memakai pita di atas rambutnya yang panjang dan berwarna cokelat, sama dengan warna bola matanya. Ia seperti sedang memakai gaun pendek, atau ah, entahlah. Hibari tidak peduli, namun gaun itu pendek di atas paha gadis itu.
Gadis itu.. Menangis.
Ia lalu duduk di bawah pohon itu. Berusaha menyembunyikan dirinya dari segerombolan pria yang memanggil namanya. Tadi siapa namanya..? Hikage? Entahlah. Gadis itu memang menangis, namun suaranya sama sekali tidak terdengar.
Gadis itu lalu tersentak setelah merasa ada yang memperhatikannya. Ia menoleh ke Hibari yang sedang menatapnya. Ia sempat menghindar, namun ia segera berlari ke arah Hibari dan menarik bajunya.
Hibari mengangkat alis, ia sempat kesal karena gadis itu punya nyali untuk menarik bajunya seperti itu.
"Aku tidak mengenalmu, jadi, jangan tarik bajuku." Hibari berusaha keras melepas tangan gadis itu dengan sedikit lembut, namun ia tak bisa. Gadis itu terus memaksanya.
"Menjauh dariku, onna. Aku tidak mengenal siapa dirimu."
Gadis itu ingin bicara, namun terhalang karena ia menangis.
Ia lalu menggerakkan tangannya, dan mengisyaratkan sesuatu. Ia membuat jarinya menjadi angka dua dan nol.
"Apa maksudmu?"
Gadis itu hanya diam dan terus menggerakkan jarinya.
"Dua puluh?"
Gadis itu mengangguk. Hibari sempat mengangkat alis, dan berusaha berfikir apa yang diisyaratkan oleh gadis itu.
"Huruf T..?"
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum bahagia. Akhirnya…
Gadis itu kembali menggerakkan jarinya.
"A."
"S."
"U."
"K."
"E."
"T."
"E."
"Tasukete..? Kau meminta tolong padaku..?" Hibari menanyakannya ragu. Benar-benar aneh, tiba-tiba saja ada gadis tak dikenal meminta tolong pada dirinya. Tidak masuk akal.
"Hikage-san! Dimana kau?!"
Suara segerombolan pria itu mengagetkan gadis itu dan Hibari. Gadis itu cepat-cepat mengisyaratkan dan Hibari menatapnya.
"H."
"A."
"Y."
"A."
"K."
"U."
"Tch!" Hibari menggigit bibir saking kesalnya sambil menarik tangan gadis itu dan membawanya pergi dari tempat itu, secepat mungkin.

"Ah! Kyo-san! Anda sudah kembali!." Suara Kusakabe menggelegar membuat Hibari kaget dan gadis itu pun juga mengalamihal yang sama.
"K-Kyo-san.. Si-Siapa gadis ini..? Ke-Kekasihmu kah..?"
Hibari melebarkan matanya, ia lalu segera melepaskan tangannya dari tangan sang gadis dan melotot ke arah Kusakabe.
"Katakan sekali lagi, Kusakabe. Dan kau akan merasakan dinginnya tonfa ini." Hibari mengatakannya sambil mengangkat kedua tonfanya.
Kusakabe meminta maaf dengan cepat, lalu melirik ke arah gadis itu. Kusakabe merona.
Gadis itu.. Cantik dan manis sekali..
"Kusakabe Tetsuya."'
Kusakabe tersentak kaget, "Ha-Hai, K-Kyo-san?"
"Tanyakan segala tentangnya, CEPAT."
"Ba-baik!"

Beberapa menit pun berlalu, Kusakabe pun menuruti perintah dari atasannya.
"A-Ano.. Namamu, nona?"
Gadis itu tidak menjawab, hanya menoleh sebentar. Ia lalu mengalihkan pandangan ke atas meja Hibari dan tersenyum tipis setelah melihat ada beberapa lembar kertas kosong dan ia pun segera mengambil pulpen. Ia menuliskan di atas kertas tersebut, membuat Kusakabe bingung.
Ia menyelesaikan tulisannya, dan membalik kertas itu. Ia lalu memperlihatkannya di atas kepalanya dengan jari-jarinya yang mungil.
Kusakabe dan Hibari melihat ke arah tulisan itu.
'Hajimemashite, watashi wa Hikage Fuyumi desu. Maaf jika ketidaksopananku mengambil kertasmu, namun aku sangat butuh untuk menjawab pertanyaan kalian. Aku memang tidak bisa bicara sejak lahir.'
Mata keduanya terbelalak, Kusakabe menelan ludah, "Anda tidak bisa bicara? Maafkan aku. Aku tidak sadar. Ngomong-ngomong, kenapa kau meminta tolong pada Kyo-san tadi?"
Gadis itu menaikkan alisnya sebentar, ia sebenarnya tidak tahu Kyo-san itu siapa. Tapi, ia yakin orang yang disebut Kyo-san itu adalah orang yang menolongnya dan yang sedang duduk di depannya sekarang.
'Maafkan aku sekali lagi. Aku memang sedang dikejar-kejar oleh segerombolan pria yang menuduh ibuku sebagai orang yang belum membayar hutangnya. Aku ingin berlari sejauh mungkin, tapi, itu kufikir itu akan sia-sia saja. Karena itulah, tadi aku sempat meminta tolong padanya. Aku benar-benar berterima kasih."
Kusakabe mengangguk. Hibari hanya menghela nafasnya.
"Onna, dimana rumahmu?"
Suara Hibari memecah keheningan. Gadis itu menoleh dan segera menuliskan jawabannya.
'Rumahku sudah habis terbakar. Orangtuaku sudah kabur entah kemana. Aku tak punya tempat tujuan, jadi aku berlari kesini.'
"Setidaknya, tinggalah di rumah temanmu."
Hikage terdiam. Menggigit bibir, ragu akan jawaban yang akan ditampilkannya.
'Aku tidak punya teman sama sekali.'
Hibari menggigit bibir.
Hikage juga menggigit bibir. Ia lalu menuliskan beberapa jawabannya.
'Bolehkah aku tinggal sementara di sekolah ini?'
Kusakabe dan Hibari terbelalak melihat tulisan itu. Hibari melotot padanya, membuat Hikage cepat-cepat menambahkan.
'A-Aku akan lakukan apa saja! Kau boleh memperkejakan aku atau tidak! A-Aku bisa mencuci, memasak, dan berbagai pekerjaan lainnya! Aku janji!.'
Kusakabe menoleh ke arah atasannya yang sedang merenung.
"Baik, herbivora. Kau akan jadi pembantu sekaligus asistenku di sekolah dan dirumah."
Hikage menatap Hibari dengan mata berbinar. Ia tersenyum cerah.
'Terima kasih..'

Hibari melangkahkan kakinya ke ruang santai dan menutup pintunya setelah Hikage masuk. Ia lalu beranjak ke sofa dan merebahkan dirinya. Ia kemudian melepas dasinya dan menatap Hikage.
Hikage tersentak dan wajahnya mulai merona merah. Ia lalu mengambil pulpen dan menuliskan beberapa pertanyaan.
Hibari yang melihat itu hanya menatapnya heran.
'A-Ano.. Maaf jika aku tidak sopan.. Tapi, aku belum mengenal namamu..'
Hibari memandangnya dingin.
"Hibari. Hibari Kyoya." Dia menjawabnya singkat.
Hikage tersenyum tipis.
'Nama yang bagus. Boleh kupanggil kau dengan Hibari-san? Kurasa itu cukup sopan, tapi jika kau tidak suka, kau bisa menyuruhku untuk menggantinya.'
"Terserah. Aku tidak peduli. Yang penting, kau sekarang sudah resmi menjadi asisten maupun pembantuku. Kau harus menuruti perintahku atau kamikorosu."
Hikage tertawa, tentunya tanpa suara.
'Hai!'

First
'Bagaimana rasanya, Hibari-san? Jika tidak enak, maka aku akan membeli sesuatu yang kau sukai.' Tulisan tangan yang indah menyambut Hibari yang baru saja bengun dari tiudrnya dan memakan sarapan yang telahdibuat oleh Hikage. Hibari bergumam.
"Tidak perlu." Hibari menjawabnya singkat. Namun, itu jawaban yang sangat indah bagi Hikage. Karena itu berarti.. Hibari menganggap masakannya lezat.
'Arigatou.'
"…." Hibari menaruh sumpitnya dan meninggalkan gadis itu ke kamarnya. Setelah beberapa menit, Hibari datang membawa sebuah seragam Namimori. Seragam perempuan, dengan rok yang pendek seperti biasanya..
"Pakai ini, herbivora. Kau sekarang asistenku dan kau harus menemaniku kemanapun dan kapanpun."
Hikage mengangguk dan segera mandi untuk memakai seragam barunya.

Second
'Hibari-san. Semua tugasnya sudah selesai, ada lagi tugas yang ingin kau berikan padaku?' Hikage menanyakannya setelah ia membereskan mengisi semua kertas-kertas yang di berikan oleh Hibari. Ia memang sudah menjadi asistennya untuk beberapa hari ini.
"Hn.."
Hikage mengunci mulutnya.
'Hibari-san. Jika kau lelah dalam mengerjakan tugasmu, biarkan aku yang mengerjakannya.'
Hibari sesaat memandangnya, namun bersikap seolah tidak memperdulikannya.
Ia menutup matanya.
"Kalau begitu, kerjakan."
Hikage tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.
Ia bergumam dalam hatinya, Aku tidak peduli. Aku tidak peduli aku hanya dianggap sebagai pembantu olehnya.. Aku.. Bersyukur bisa bertemu orang seperti dia..
Hikage lalu mengambil semua tugas Hibari dan mengerjakannya dengan senang hati.

Third
Hikage menguap sebentar, lalu melanjutkan menyapu lantai ruang santai Hibari. Ia disuruh menjaga dan membereskan rumah Hibari karena Hibari harus berpatroli di hari libur seperti ini. Hikage tentu saja dengan senang hati menerimanya.
Setelah beberapa jam, Hikage berhasil menyelesaikan semuanya. Ketika ia ingin mengambil minum, suara pintu terbuka karena Hibari yang baru saja pulang membukanya dengan tiba-tiba, membuat gelas yang berada di tangan Hikage pecah.
Hikage menggigit bibir. Gawat!
Hibari yang baru saja pulang menaikkan alisnya karena mendengar sesuatu yang asing baginya. Ia segera menuju ke arah suara berisik tersebut.
"Herbivora.. Kau.. Merusak.."
Hikage menelan ludah. Tangisan mulai muncul dari matanya. Ia ingin menjelaskannya, namun sama sekali tidak ada kertas disana.
Hibari melotot kepadanya dan mengangkat kedua tonfanya.
"Untuk merusak barang-barang dirumahku..Kau akan kugigit sampai mati."
Hikage terdiam lalu tersenyum tipis.
Ia menutup matanya dan menunggu serangan Hibari.
Hibari memandangnya heran.. sekaligus terkejut… Ketika gadis itu menutup mata.. Ia baru menyadari..
Wajahnya.. Matanya.. Rambutnya.. Semuanya membuat wajah gadis itu terlihat sangat cantik dimatanya.
Jantung Hibari sedikit berdebar, ia lalu menurunkan tonfanya membuat mata Hikage menjadi terbuka.
"Untuk sekarang, kau kumaafkan." Hibari mengalihkan pandangan dan segera pergi dari Hikage.
Hikage masih menatap kepergian Hibari dengan bingung.
Hibari-san tidak…?

Fourth
Hibari berjalan ke arah halamannya. Matanya membesar setelah melihat Hikage yang sedang menyiram tamannya . Rambutnya yang panjang, tertiup angin dan membuatnya menjadi sangat..
Sangat..
Sangat..?
Hibari menggigit bibir dan duduk di kursi ruang santainya. Ia tidak jadi pergi ke halaman. Ia lalu melihat dari dalam jendela.
Gadis itu..
Benar-benar manis saat tersenyum..

Fifth
Hibari membuka matanya dari tidurnya yang nyenyak. Ia terbangun karena alarm sialannya berbunyi dengan kencang membuatnya ingin menghancurkannya. Ia menghela nafas dan menguap sekali lagi. Ia lalu pergi ke kamar mandi dan setelah itu keluar untuk sarapan.
Ia berjalan gontai ke arah meja makan dan betapa terkejutnya ia.
Tidak ada makanan sama sekali di mejanya.
Hibari merasa darahnya mulai naik. Herbivora itu…
Ia lalu menuju kamar Hikage yang telah disiapkannya. Ia benar-benar akan menggigit gadis itu sampai mati.
Ia berhenti sebentar. Ia lalu melihat bahwa gadis itu masih tertidur pulas dengan piyamanya yang kekanak-kanakkan.
Ia menelan ludah, lagi-lagi..
Wajahnya yang putih-pucat-cerah karena disinari sinar matahari, bulu matanya yang lentik tersipu ke bawah, bibirnya yang tipis, rambutnya yang panjang teracak-acak karena ia sedang tertidur.
Hibari lalu dengan berani mengelus pipinya dengan jarinya dan membuat gadis itu terbangun.
"Hikage.."
Hikage tersentak saat Hibari memanggil namanya. Ia merona merah dan segera berlari sambil membawa sebuah kertas dan menuliskan beberapa tulisan. Ini pertama kalinya..
'Hibari-san! Baru kali ini aku mendengar kau menyebut namaku! Terima kasih!'
Hibari yang membacanya hanya menyeringai sambil meninggalkannya.

Sixth
Hibari membenamkan kepalanya di mejanya. Ia sungguh bosan. Hikage sedang pergi untuk sesuatu dan ia merahasiakannya dari Hibari. Ia benar-benar..
Hibari lalu mendengar ponselnya berdering amat keras, ia segera mengangkatnya.
"Hoo~ Hibari Kyoya kah? Heheh~ Kau mau tahu nasib kekasihmu itu? Dia sedang berada disini dan Oow!"
"Siapa kau herbivora? Kekasih apa maksudmu? Aku tak pu—"
"Hhoo~ Kalau begitu, siapakah Hikage Fuyumi ini untukmu~? Kalau kau bukan pacarnya, maka kami bisa bersenang-senang dengannya untuk membayar semua hutang ibunya, kan~"
"Kau. Akan kugigit sampai mati!"

Seventh
'Terima kasih.. Aku sangat berterima kasih Hibari-san..' Hikage menangis setelah melihat Hibari dengan sendirinya mengalahkan semua penjahat bayaran yang menyekap Hikage.
Hibari hanya menghela nafas, dan duduk seperti biasa di rumahnya.
Hikage tersenyum tipis.. Ia lalu menjatuhkan air matanya lagi dan menundukkan kepalanya.
Hibari yang melihat itu, merasa heran.
"Ada apa Hikage?"
Hikage mengusap air matanya.
Ia lalu menoleh.
'Boleh.. Aku jujur pada Hibari-san?'
Hibari sempat bingung, namun ia mengangguk.
Hikage lalu menorehkan penanya.
'Hibari-san.. Maaf jika tiba-tiba.. Tapi.. Aku.. Aku.. Aku menyukaimu..'
Hikage menutup kepalanya dengan kertasnya sambil menyembunyikan pipinya yang merah dan jantungnya yang berdetak cepat.
Hibari tersentak melihat pertanyaan itu.
Hikage kembali menulis.
'A-Aku tahu, aku bodoh! Mana mungkin gadis bisu sepertiku berhak menyukaimu! Tapi.. setidaknya.. Jika aku bisa bicara.. Aku ingin mengatakannya dan terus memanggil namamu..'
'Kau bisa menolakku, Hibari-san.. Apa saja jawabanmu.. Akan kuterima..'
Hikage berhenti menulis setelah melihat bibir Hibari mencium bibirnya. Lembut.. dan menenangkan.
"Aku tidak peduli, Hikage.. Yang terpenting adalah perasaanmu.. Aku.. Juga menyukaimu.."
Hikage yang mendengar itu, menagis bahagia. Membuatnya ditarik Hibari ke pelukannya dengan erat.
"Tetaplah disisiku.. Hikage.."
END