FanFiction
By : Skyking22. Regalia a.k.a Me. (Ya, ini FanFiction Romance pertama saya, makanya sedikit dan abal banget T_T
Rated : T
Warn : Nggak ada, mungkin Typhos lewat(?)
Special for Hibari-sama's birthday~
.
.
.
KHR semuanya milik Amano Akira.
Seperti biasanya, Kota Namimori selalu tenang dan damai.
Hibari
Kyoya, sang ketua komite kedisplinan bergumam pelan dan menghela
nafasnya dengan tenang sambil melihat keadaan sekitarnya. Ia
melangkahkan kakinya di malam yang dinginnya bagaikan membekukan
kakinya.
Ia kembali berjalan, berpatroli di tengah gelapnya sang
malam. Berusaha mencari ketenangan dan sudah bersiap menggigit orang
sampai mati jika ada yang menganggu ketenangannya saat ini.
Hibari menghirup udara malam, lalu melepaskannya kembali. Ia menutup matanya sebentar.. Betapa tenangnya Namimori ini..
Namun,
samar-samar, ia bisa mendengar langkah banyak orang. Ia menggigit
bibir, padahal baru saja ia bisa merasakan ketenangan di kota
tercintanya ini, tapi sudah diganggu oleh herbivora-herbivora lemah di
sekitarnya.
"OI! Jangan lari, Hikage-san!"
"Tch! Jangan sampai dia kabur!"
Hibari
menoleh ke arah orang-orang berteriak itu, dan betapa terkejutnya ia
setelah melihat ada gadis yang berlari terengah-engah keluar dari pohon.
Hibari
melihat gadis itu. Kulit wajahnya dan badannya putih pucat, matanya
berwarna cokelat, ia memakai pita di atas rambutnya yang panjang dan
berwarna cokelat, sama dengan warna bola matanya. Ia seperti sedang
memakai gaun pendek, atau ah, entahlah. Hibari tidak peduli, namun gaun
itu pendek di atas paha gadis itu.
Gadis itu.. Menangis.
Ia
lalu duduk di bawah pohon itu. Berusaha menyembunyikan dirinya dari
segerombolan pria yang memanggil namanya. Tadi siapa namanya..? Hikage?
Entahlah. Gadis itu memang menangis, namun suaranya sama sekali tidak
terdengar.
Gadis itu lalu tersentak setelah merasa ada yang
memperhatikannya. Ia menoleh ke Hibari yang sedang menatapnya. Ia sempat
menghindar, namun ia segera berlari ke arah Hibari dan menarik bajunya.
Hibari mengangkat alis, ia sempat kesal karena gadis itu punya nyali untuk menarik bajunya seperti itu.
"Aku
tidak mengenalmu, jadi, jangan tarik bajuku." Hibari berusaha keras
melepas tangan gadis itu dengan sedikit lembut, namun ia tak bisa. Gadis
itu terus memaksanya.
"Menjauh dariku, onna. Aku tidak mengenal siapa dirimu."
Gadis itu ingin bicara, namun terhalang karena ia menangis.
Ia lalu menggerakkan tangannya, dan mengisyaratkan sesuatu. Ia membuat jarinya menjadi angka dua dan nol.
"Apa maksudmu?"
Gadis itu hanya diam dan terus menggerakkan jarinya.
"Dua puluh?"
Gadis itu mengangguk. Hibari sempat mengangkat alis, dan berusaha berfikir apa yang diisyaratkan oleh gadis itu.
"Huruf T..?"
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum bahagia. Akhirnya…
Gadis itu kembali menggerakkan jarinya.
"A."
"S."
"U."
"K."
"E."
"T."
"E."
"Tasukete..?
Kau meminta tolong padaku..?" Hibari menanyakannya ragu. Benar-benar
aneh, tiba-tiba saja ada gadis tak dikenal meminta tolong pada dirinya.
Tidak masuk akal.
"Hikage-san! Dimana kau?!"
Suara segerombolan pria itu mengagetkan gadis itu dan Hibari. Gadis itu cepat-cepat mengisyaratkan dan Hibari menatapnya.
"H."
"A."
"Y."
"A."
"K."
"U."
"Tch!"
Hibari menggigit bibir saking kesalnya sambil menarik tangan gadis itu
dan membawanya pergi dari tempat itu, secepat mungkin.
"Ah!
Kyo-san! Anda sudah kembali!." Suara Kusakabe menggelegar membuat
Hibari kaget dan gadis itu pun juga mengalamihal yang sama.
"K-Kyo-san.. Si-Siapa gadis ini..? Ke-Kekasihmu kah..?"
Hibari melebarkan matanya, ia lalu segera melepaskan tangannya dari tangan sang gadis dan melotot ke arah Kusakabe.
"Katakan
sekali lagi, Kusakabe. Dan kau akan merasakan dinginnya tonfa ini."
Hibari mengatakannya sambil mengangkat kedua tonfanya.
Kusakabe meminta maaf dengan cepat, lalu melirik ke arah gadis itu. Kusakabe merona.
Gadis itu.. Cantik dan manis sekali..
"Kusakabe Tetsuya."'
Kusakabe tersentak kaget, "Ha-Hai, K-Kyo-san?"
"Tanyakan segala tentangnya, CEPAT."
"Ba-baik!"
Beberapa menit pun berlalu, Kusakabe pun menuruti perintah dari atasannya.
"A-Ano.. Namamu, nona?"
Gadis
itu tidak menjawab, hanya menoleh sebentar. Ia lalu mengalihkan
pandangan ke atas meja Hibari dan tersenyum tipis setelah melihat ada
beberapa lembar kertas kosong dan ia pun segera mengambil pulpen. Ia
menuliskan di atas kertas tersebut, membuat Kusakabe bingung.
Ia
menyelesaikan tulisannya, dan membalik kertas itu. Ia lalu
memperlihatkannya di atas kepalanya dengan jari-jarinya yang mungil.
Kusakabe dan Hibari melihat ke arah tulisan itu.
'Hajimemashite,
watashi wa Hikage Fuyumi desu. Maaf jika ketidaksopananku mengambil
kertasmu, namun aku sangat butuh untuk menjawab pertanyaan kalian. Aku
memang tidak bisa bicara sejak lahir.'
Mata keduanya
terbelalak, Kusakabe menelan ludah, "Anda tidak bisa bicara? Maafkan
aku. Aku tidak sadar. Ngomong-ngomong, kenapa kau meminta tolong pada
Kyo-san tadi?"
Gadis itu menaikkan alisnya sebentar, ia sebenarnya
tidak tahu Kyo-san itu siapa. Tapi, ia yakin orang yang disebut Kyo-san
itu adalah orang yang menolongnya dan yang sedang duduk di depannya
sekarang.
'Maafkan aku sekali lagi. Aku memang sedang
dikejar-kejar oleh segerombolan pria yang menuduh ibuku sebagai orang
yang belum membayar hutangnya. Aku ingin berlari sejauh mungkin, tapi,
itu kufikir itu akan sia-sia saja. Karena itulah, tadi aku sempat
meminta tolong padanya. Aku benar-benar berterima kasih."
Kusakabe mengangguk. Hibari hanya menghela nafasnya.
"Onna, dimana rumahmu?"
Suara Hibari memecah keheningan. Gadis itu menoleh dan segera menuliskan jawabannya.
'Rumahku sudah habis terbakar. Orangtuaku sudah kabur entah kemana. Aku tak punya tempat tujuan, jadi aku berlari kesini.'
"Setidaknya, tinggalah di rumah temanmu."
Hikage terdiam. Menggigit bibir, ragu akan jawaban yang akan ditampilkannya.
'Aku tidak punya teman sama sekali.'
Hibari menggigit bibir.
Hikage juga menggigit bibir. Ia lalu menuliskan beberapa jawabannya.
'Bolehkah aku tinggal sementara di sekolah ini?'
Kusakabe dan Hibari terbelalak melihat tulisan itu. Hibari melotot padanya, membuat Hikage cepat-cepat menambahkan.
'A-Aku
akan lakukan apa saja! Kau boleh memperkejakan aku atau tidak! A-Aku
bisa mencuci, memasak, dan berbagai pekerjaan lainnya! Aku janji!.'
Kusakabe menoleh ke arah atasannya yang sedang merenung.
"Baik, herbivora. Kau akan jadi pembantu sekaligus asistenku di sekolah dan dirumah."
Hikage menatap Hibari dengan mata berbinar. Ia tersenyum cerah.
'Terima kasih..'
Hibari
melangkahkan kakinya ke ruang santai dan menutup pintunya setelah
Hikage masuk. Ia lalu beranjak ke sofa dan merebahkan dirinya. Ia
kemudian melepas dasinya dan menatap Hikage.
Hikage tersentak dan wajahnya mulai merona merah. Ia lalu mengambil pulpen dan menuliskan beberapa pertanyaan.
Hibari yang melihat itu hanya menatapnya heran.
'A-Ano.. Maaf jika aku tidak sopan.. Tapi, aku belum mengenal namamu..'
Hibari memandangnya dingin.
"Hibari. Hibari Kyoya." Dia menjawabnya singkat.
Hikage tersenyum tipis.
'Nama
yang bagus. Boleh kupanggil kau dengan Hibari-san? Kurasa itu cukup
sopan, tapi jika kau tidak suka, kau bisa menyuruhku untuk
menggantinya.'
"Terserah. Aku tidak peduli. Yang penting, kau
sekarang sudah resmi menjadi asisten maupun pembantuku. Kau harus
menuruti perintahku atau kamikorosu."
Hikage tertawa, tentunya tanpa suara.
'Hai!'
First
'Bagaimana rasanya, Hibari-san? Jika tidak enak, maka aku akan membeli sesuatu yang kau sukai.'
Tulisan tangan yang indah menyambut Hibari yang baru saja bengun dari
tiudrnya dan memakan sarapan yang telahdibuat oleh Hikage. Hibari
bergumam.
"Tidak perlu." Hibari menjawabnya singkat. Namun, itu
jawaban yang sangat indah bagi Hikage. Karena itu berarti.. Hibari
menganggap masakannya lezat.
'Arigatou.'
"…."
Hibari menaruh sumpitnya dan meninggalkan gadis itu ke kamarnya. Setelah
beberapa menit, Hibari datang membawa sebuah seragam Namimori. Seragam
perempuan, dengan rok yang pendek seperti biasanya..
"Pakai ini, herbivora. Kau sekarang asistenku dan kau harus menemaniku kemanapun dan kapanpun."
Hikage mengangguk dan segera mandi untuk memakai seragam barunya.
Second
'Hibari-san. Semua tugasnya sudah selesai, ada lagi tugas yang ingin kau berikan padaku?' Hikage
menanyakannya setelah ia membereskan mengisi semua kertas-kertas yang
di berikan oleh Hibari. Ia memang sudah menjadi asistennya untuk
beberapa hari ini.
"Hn.."
Hikage mengunci mulutnya.
'Hibari-san. Jika kau lelah dalam mengerjakan tugasmu, biarkan aku yang mengerjakannya.'
Hibari sesaat memandangnya, namun bersikap seolah tidak memperdulikannya.
Ia menutup matanya.
"Kalau begitu, kerjakan."
Hikage tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya.
Ia bergumam dalam hatinya, Aku
tidak peduli. Aku tidak peduli aku hanya dianggap sebagai pembantu
olehnya.. Aku.. Bersyukur bisa bertemu orang seperti dia..
Hikage lalu mengambil semua tugas Hibari dan mengerjakannya dengan senang hati.
Third
Hikage
menguap sebentar, lalu melanjutkan menyapu lantai ruang santai Hibari.
Ia disuruh menjaga dan membereskan rumah Hibari karena Hibari harus
berpatroli di hari libur seperti ini. Hikage tentu saja dengan senang
hati menerimanya.
Setelah beberapa jam, Hikage berhasil
menyelesaikan semuanya. Ketika ia ingin mengambil minum, suara pintu
terbuka karena Hibari yang baru saja pulang membukanya dengan tiba-tiba,
membuat gelas yang berada di tangan Hikage pecah.
Hikage menggigit bibir. Gawat!
Hibari
yang baru saja pulang menaikkan alisnya karena mendengar sesuatu yang
asing baginya. Ia segera menuju ke arah suara berisik tersebut.
"Herbivora.. Kau.. Merusak.."
Hikage menelan ludah. Tangisan mulai muncul dari matanya. Ia ingin menjelaskannya, namun sama sekali tidak ada kertas disana.
Hibari melotot kepadanya dan mengangkat kedua tonfanya.
"Untuk merusak barang-barang dirumahku..Kau akan kugigit sampai mati."
Hikage terdiam lalu tersenyum tipis.
Ia menutup matanya dan menunggu serangan Hibari.
Hibari memandangnya heran.. sekaligus terkejut… Ketika gadis itu menutup mata.. Ia baru menyadari..
Wajahnya.. Matanya.. Rambutnya.. Semuanya membuat wajah gadis itu terlihat sangat cantik dimatanya.
Jantung Hibari sedikit berdebar, ia lalu menurunkan tonfanya membuat mata Hikage menjadi terbuka.
"Untuk sekarang, kau kumaafkan." Hibari mengalihkan pandangan dan segera pergi dari Hikage.
Hikage masih menatap kepergian Hibari dengan bingung.
Hibari-san tidak…?
Fourth
Hibari
berjalan ke arah halamannya. Matanya membesar setelah melihat Hikage
yang sedang menyiram tamannya . Rambutnya yang panjang, tertiup angin
dan membuatnya menjadi sangat..
Sangat..
Sangat..?
Hibari menggigit bibir dan duduk di kursi ruang santainya. Ia tidak jadi pergi ke halaman. Ia lalu melihat dari dalam jendela.
Gadis itu..
Benar-benar manis saat tersenyum..
Fifth
Hibari
membuka matanya dari tidurnya yang nyenyak. Ia terbangun karena alarm
sialannya berbunyi dengan kencang membuatnya ingin menghancurkannya. Ia
menghela nafas dan menguap sekali lagi. Ia lalu pergi ke kamar mandi dan
setelah itu keluar untuk sarapan.
Ia berjalan gontai ke arah meja makan dan betapa terkejutnya ia.
Tidak ada makanan sama sekali di mejanya.
Hibari merasa darahnya mulai naik. Herbivora itu…
Ia lalu menuju kamar Hikage yang telah disiapkannya. Ia benar-benar akan menggigit gadis itu sampai mati.
Ia berhenti sebentar. Ia lalu melihat bahwa gadis itu masih tertidur pulas dengan piyamanya yang kekanak-kanakkan.
Ia menelan ludah, lagi-lagi..
Wajahnya
yang putih-pucat-cerah karena disinari sinar matahari, bulu matanya
yang lentik tersipu ke bawah, bibirnya yang tipis, rambutnya yang
panjang teracak-acak karena ia sedang tertidur.
Hibari lalu dengan berani mengelus pipinya dengan jarinya dan membuat gadis itu terbangun.
"Hikage.."
Hikage
tersentak saat Hibari memanggil namanya. Ia merona merah dan segera
berlari sambil membawa sebuah kertas dan menuliskan beberapa tulisan.
Ini pertama kalinya..
'Hibari-san! Baru kali ini aku mendengar kau menyebut namaku! Terima kasih!'
Hibari yang membacanya hanya menyeringai sambil meninggalkannya.
Sixth
Hibari
membenamkan kepalanya di mejanya. Ia sungguh bosan. Hikage sedang pergi
untuk sesuatu dan ia merahasiakannya dari Hibari. Ia benar-benar..
Hibari lalu mendengar ponselnya berdering amat keras, ia segera mengangkatnya.
"Hoo~ Hibari Kyoya kah? Heheh~ Kau mau tahu nasib kekasihmu itu? Dia sedang berada disini dan Oow!"
"Siapa kau herbivora? Kekasih apa maksudmu? Aku tak pu—"
"Hhoo~
Kalau begitu, siapakah Hikage Fuyumi ini untukmu~? Kalau kau bukan
pacarnya, maka kami bisa bersenang-senang dengannya untuk membayar semua
hutang ibunya, kan~"
"Kau. Akan kugigit sampai mati!"
Seventh
'Terima kasih.. Aku sangat berterima kasih Hibari-san..' Hikage menangis setelah melihat Hibari dengan sendirinya mengalahkan semua penjahat bayaran yang menyekap Hikage.
Hibari hanya menghela nafas, dan duduk seperti biasa di rumahnya.
Hikage tersenyum tipis.. Ia lalu menjatuhkan air matanya lagi dan menundukkan kepalanya.
Hibari yang melihat itu, merasa heran.
"Ada apa Hikage?"
Hikage mengusap air matanya.
Ia lalu menoleh.
'Boleh.. Aku jujur pada Hibari-san?'
Hibari sempat bingung, namun ia mengangguk.
Hikage lalu menorehkan penanya.
'Hibari-san.. Maaf jika tiba-tiba.. Tapi.. Aku.. Aku.. Aku menyukaimu..'
Hikage menutup kepalanya dengan kertasnya sambil menyembunyikan pipinya yang merah dan jantungnya yang berdetak cepat.
Hibari tersentak melihat pertanyaan itu.
Hikage kembali menulis.
'A-Aku
tahu, aku bodoh! Mana mungkin gadis bisu sepertiku berhak menyukaimu!
Tapi.. setidaknya.. Jika aku bisa bicara.. Aku ingin mengatakannya dan
terus memanggil namamu..'
'Kau bisa menolakku, Hibari-san.. Apa saja jawabanmu.. Akan kuterima..'
Hikage berhenti menulis setelah melihat bibir Hibari mencium bibirnya. Lembut.. dan menenangkan.
"Aku tidak peduli, Hikage.. Yang terpenting adalah perasaanmu.. Aku.. Juga menyukaimu.."
Hikage yang mendengar itu, menagis bahagia. Membuatnya ditarik Hibari ke pelukannya dengan erat.
"Tetaplah disisiku.. Hikage.."
END

No comments:
Post a Comment